AI sebagai Alat Riset: Mengoptimalkan Teknik Prompting untuk Penelitian

Author

Anisa K.

Published on

August 4, 2026

AI dikenal sebagai salah satu penemuan tercanggih di dunia teknologi karena keberadaannya dapat digunakan untuk berbagai macam kebutuhan dan keinginan setiap penggunanya.

Sebut saja mulai dari menjawab berbagai pertanyaan pengguna, menghasilkan ideasi, membantu mengembangkan topik yang sedang dibicarakan, mengoreksi kesalahan dalam penulisan, menghasilkan sebuah gambar atau foto, hingga mendukung proses riset bagi sebagian orang.

Riset adalah kegiatan yang sistematis dan terstruktur untuk mencari, menemukan, dan menganalisis informasi maupun data tertentu guna mendapatkan jawaban yang akurat atau memecahkan masalah yang sedang diteliti.

Berbeda dengan mencari informasi pada umumnya, riset harus dilakukan secara hati-hati, menyertakan referensi atau sumber yang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya, dan dianalisis berdasarkan data, bukan sekadar opini sepihak.

Jika Anda ingin melakukan deep research atau riset mendalam menggunakan AI, sangat disarankan untuk mengoptimalkan teknik prompting dan menggunakan fitur deep research seperti yang tersedia di Gemini.

Berikut penjelasan, metode, dan contoh teknik prompting AI untuk penelitian mendalam (deep research) Anda!

Cara Riset Pakai AI

alur riset pakai AI

Riset umumnya dilakukan oleh akademisi, profesional, content writer, tim marketing bisnis, dan lain-lain untuk menemukan informasi yang didasarkan pada fakta serta penelitian, sehingga kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan di hadapan publik maupun untuk kepentingan pribadi.

Nah, orang-orang yang melakukan riset dengan mengumpulkan informasi dan data lewat internet biasanya akan menentukan sejumlah langkah, seperti memetakan topik, mengumpulkan referensi, menganalisis atau melakukan perbandingan, melakukan fact-checking, membuat outline, dan sebagainya.

Hal yang sama juga berlaku ketika menggunakan AI sebagai alat riset. Perbedaannya adalah pada metode yang digunakan. Jika riset manual memakan waktu yang lebih lama karena harus mencari data satu per satu dengan kata kunci berbeda, maka riset dengan teknik prompting jauh lebih efektif dan efisien.

Inilah tips teknik prompting untuk riset mendalam pakai AI:

1. Gunakan Prompting Bertingkat (Layered Prompting)

Jika sebelumnya Anda sudah belajar apa itu prompt dan cara menyusun prompt yang detail, maka dalam konteks riset kali ini, Anda akan belajar teknik prompting bertingkat (layered prompting).

Apa itu prompting bertingkat? Adalah metode atau teknik menyusun prompt secara bertahap, terstruktur, dan dimulai dari konteks yang paling umum hingga mengerucutkan pembahasan ke dalam tingkat yang paling spesifik.

Tujuan membuat prompt bertingkat yakni untuk mendapatkan informasi yang benar-benar akurat, detail, jelas, dan relevan dari AI sesuai kebutuhan pengguna. Namun, seperti halnya ketika sedang berdiskusi dengan seorang guru, dosen, atau ilmuwan, untuk memperoleh jawaban yang lebih mendalam dari AI, Anda perlu mengajukan pertanyaan secara bertahap, bahkan meminta verifikasi informasi secara berulang kalau memang sangat diperlukan.

Misalnya saja, mulai dari langkah detail seperti ini:

1. Tentukan topik dan tentukan tujuan riset
        ↓
2. Susun prompt awal untuk mengeksplorasi topik secara luas
        ↓
3. Pecah menjadi subtopik dan lakukan pendalaman
        ↓
4. Analisis dan sintesis informasi
        ↓
5. Validasi fakta
        ↓
6. Susun hasil riset sesuai kebutuhan
        ↓
7. Buat kesimpulan dari hasil riset

2. Cek Sumber Referensi yang Ditunjukkan oleh AI

Salah satu tips dalam menggunakan tools AI untuk riset adalah tidak langsung copy-paste tanpa memeriksa keaslian sumber yang dicantumkan. Terutama bagi Anda yang menggunakan tools seperti ChatGPT, Perplexity, Gemini, atau DeepSeek.

Jadi, sebelum memasuki langkah berikutnya, Anda perlu mengecek sumber referensi yang dimunculkan oleh AI dalam bentuk link atau anchor text disertai link tertentu, hingga daftar pustaka yang dimunculkan di bawah hasil generate AI.

Apabila link tersebut dapat diakses bahkan diunduh dan menunjukkan konteks pembahasan sesuai dengan pertanyaan riset Anda, silakan melanjutkan ke langkah ketiga, yakni meringkas informasi yang telah berhasil dikumpulkan lewat AI.

3. Upload File dan Minta AI untuk Merangkumnya

Terkadang sumber referensi yang direkomendasikan oleh AI berjumlah lebih dari satu, bukan? Bahkan bisa mencapai 5-10 referensi, baik dalam bentuk jurnal, penelitian, karya ilmiah, dan sebagainya, dengan format PDF, URL website, maupun doc.

Membaca satu per satu tentu saja akan membutuhkan banyak waktu dan tenaga, sehingga Anda perlu mempermudahnya dengan cara mengunggah file referensi tersebut lewat fitur attachment file yang ada di tools AI dan meminta untuk meringkas pokok pembahasan, membandingkan, hingga menganalisis dari sudut pandang persona AI yang Anda instruksikan sebelumnya.

Setelah AI selesai merangkumnya, ambil dan simpan poin penting atau pokok pembahasan yang Anda butuhkan dari sumber referensi tersebut untuk dianalisis kembali.

4. Buat Prompt untuk Proses Evaluasi

Sebagian besar riset mendalam butuh analisis ekstra untuk menentukan apakah data/informasi tersebut valid atau tidak. Dengan membuat prompt evaluatif tersebut, berarti Anda memberikan instruksi kepada AI untuk mengkritisi, menganalisis, dan menilai secara tajam jurnal yang sedang dibahas.

Tujuan prompt evaluatif seperti ini adalah untuk membuka dan mengembangkan desain berpikir pengguna yang sedang meneliti sesuatu. Bukan hanya itu saja, prompt evaluatif juga dapat Anda manfaatkan untuk mengungkap bias pada hasil analisis AI sebelumnya.

Kenapa bisa terjadi bias? Karena terkadang AI tidak mampu memberikan jawaban yang konsisten atau bahkan hanya menyenangkan pengguna. Dengan kata lain, hasil generate AI dapat berubah-ubah saat pengguna meminta verifikasi berulang. Hal ini disebabkan oleh cara AI dalam mengumpulkan data dari manusia yang dianggap tidak netral, kurangnya data representatif, dan AI tidak mengenal etika maupun emosi layaknya manusia pada umumnya.

Nah, dari empat langkah di atas, sekarang saatnya menjajal riset pakai tools AI untuk mengetahui seberapa ampuh alat ini untuk riset.

Contoh Riset Pakai AI

Tools AI seperti ChatGPT dapat Anda gunakan untuk mencari data atau informasi tertentu sesuai dengan instruksi atau pertanyaan yang diajukan.

Namun, perlu dicatat, meskipun tools AI dikenal cukup powerful, Anda tetap harus berhati-hati dan wajib mengecek kebenaran data serta informasi yang dihasilkan oleh AI.

Berikut contoh riset menggunakan ChatGPT dan hasilnya:

“Aku pembeli dan pencinta matcha yang bisa dikatakan masih baru banget. Karena sering jajan matcha di luar itu boros, aku mau bikin sendiri di rumah. Jadi tolong sediakan informasi tentang:

  • daftar harga matcha powder yang terjangkau dengan harga di bawah 100 ribu
  • pilih yang benar-benar pure matcha
  • harga alat untuk membuat matcha yang paling affordable”

Dari hasil prompting di atas, ChatGPT memberikan informasi berupa dua brand yang menawarkan pure matcha tanpa campuran gula dan creamer. Namun sebagai bahan referensi, dua brand kemungkinan masih kurang, sehingga Anda perlu meminta AI untuk memberikan 10 rekomendasi agar opsinya lebih banyak.

Untuk itu, Anda tidak perlu merevisi prompt sebelumnya, tetapi hanya perlu melakukan eksplorasi dengan mengirim chat/prompt yang bertuliskan “Berikan 10 rekomendasi dong” agar AI memberikan pilihan produk matcha yang lebih banyak.

Kalau mencermati informasi yang dihasilkan oleh AI di atas, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan, seperti:

  • AI menyebutkan beberapa merek secara berulang, seperti HAYS, Seduh Pertama, dan Beorganik.
  • Ada salah satu link rekomendasi, yang ketika Anda klik, ternyata halaman tidak ditemukan.
  • Pada bagian kolom “Cocok untuk” terdengar seperti klaim sepihak, apalagi penggunaan kata “paling” yang berlebihan.
  • Dari daftar di atas, terdapat beberapa istilah yang biasanya muncul ketika audiens mencari tahu tentang matcha, yakni “culinary” atau “culinary premium” sehingga Anda perlu mencari tahu lebih detail: apa perbedaan matcha culinary grade dengan ceremonial.

Melihat empat hal di atas yang masih menjadi tanda tanya bagi Anda, selanjutnya Anda bisa melakukan improvisasi lagi dengan membuat prompt yang lebih detail dan proper serta menjadi subtopik yang lebih spesifik seperti di bawah ini.

“Aku pembeli dan pencinta matcha yang bisa dikatakan masih baru banget. Karena sering jajan matcha di luar itu boros, aku mau bikin sendiri di rumah. Jadi bantu aku melakukan riset tentang pure matcha dengan mencantumkan informasi sebagai berikut:

  • daftar harga matcha powder yang terjangkau dengan harga di bawah 100 ribu beserta link-nya
  • sediakan 10 brand yang menjual pure matcha
  • apa perbedaan matcha culinary grade vs ceremonial? Dan mana yang lebih bagus buat latte?
  • harga alat untuk membuat matcha yang paling affordable”

Begini hasil generate AI setelah Anda menulis prompt yang lebih detail dan proper

Setelah membaca hasil generate AI tersebut, saatnya melakukan validasi untuk mengecek kebenaran informasi yang disediakan oleh ChatGPT. Perlu diketahui, ChatGPT sendiri saat ini mampu memberikan informasi atau data terbaru 2026 dengan melakukan crawling dari berbagai website di internet, terutama marketplace.

Jadi, mari  periksa kebenaran informasi atau data yang disajikan oleh ChatGPT. Apakah semuanya benar?

  1. Pada rekomendasi pertama, ChatGPT memberikan informasi yang sesuai dengan permintaan pengguna lewat prompt. Sebut saja, mulai dari Seduh Permata, Javaland, hingga Matcha Signature. Semua link dapat diakses, akan tetapi, jika Anda memeriksa satu per satu produk yang direkomendasikan oleh AI, Anda akan mengetahui bahwa salah satu dari daftar matcha di atas bukan 100% pure, tetapi ada pula yang menggunakan food color atau zat adiktif berupa pewarna makanan sintetis. Jadi, bisa dikatakan hasil generate AI tentang daftar pure matcha masih belum 100% valid.
  2. ChatGPT memang merekomendasikan 10 brand matcha powder dengan harga sesuai permintaan pengguna. Sayangnya, nama brand yang muncul ternyata tidak didominasi oleh nama-nama brand matcha yang paling laris atau populer. Jadi, bisa dikatakan informasi ChatGPT kurang relevan dengan yang disajikan oleh mesin pencari seperti Google.
  3. Dalam memaparkan perbedaan matcha culinary grade dan ceremonial grade sudah tepat. Namun dalam menjabarkan alat pengaduk matcha, terutama chasen (bamboo whisk) dengan harga 20-40 ribu masih belum tepat. Sebab harga chasen untuk kategori standar di kisaran 60 ribu. Sedangkan, chasen di harga 20-40 ribuan merupakan pengaduk berbahan plastik, bukan bambu. Dari sini dapat diketahui bahwa informasi yang dihasilkan oleh AI belum begitu akurat dan harus divalidasi secara berulang untuk mengetahui kebenarannya.
  4. Sumber referensi yang disisipkan oleh AI seluruhnya berasal dari satu nama marketplace, sehingga sebagai pengguna yang membutuhkan lebih banyak informasi merasa masih kurang bisa menjawab rasa penasaran, terutama saat membahas perbedaan matcha culinary grade dengan ceremonial yang terkesan cukup pendek. Oleh karena itu, ChatGPT masih kurang informatif dalam menyajikan data yang sifatnya perlu pendalaman yang lebih luas.

Setelah melakukan analisis dan pengecekan terhadap sumber referensi (link) yang dihasilkan oleh AI tentang matcha, ternyata informasi yang muncul masih perlu divalidasi ulang. Selain itu, Anda juga perlu melakukan perbandingan informasi menggunakan riset agen yang dinilai lebih akurat.

Sekarang saatnya memaksimalkan teknik prompting dan mengimplementasikannya untuk melakukan riset topik yang sama.

Validasi Fakta tentang Matcha Menggunakan Riset Agen

Karena hasil generate dari ChatGPT masih belum begitu akurat, saatnya mengggunakan prompt yang kurang lebih sama dengan yang sebelumnya. Kalau sebelumnya Anda mengandalkan ChatGPT, sekarang saatnya menggunakan Perplexity AI.

Promptnya seperti ini:

“Aku pembeli dan pencinta matcha yang bisa dikatakan masih baru banget. Karena sering jajan matcha di luar itu boros, aku mau bikin sendiri di rumah. Jadi bantu aku melakukan riset tentang pure matcha dengan mencantumkan informasi sebagai berikut:

  • daftar harga matcha powder yang terjangkau dengan harga di bawah 100 ribu di marketplace Indonesia beserta link-nya
  • sediakan 10 brand yang menjual pure matcha
  • apa perbedaan matcha culinary grade vs ceremonial? Dan mana yang lebih bagus buat latte?
  • harga alat untuk membuat matcha yang paling affordable”

Berikut jawaban Perplexity AI:

Perplexity memberikan disclaimer singkat yang lebih mudah dan bisa cepat dipahami.

Perplexity bisa menyajikan pure matcha dari 10 brand berbeda, bahkan semuanya masuk kategori produk terlaris.

Dalam menjelaskan perbedaan matcha culinary grade dan ceremonial, Perplexity menyajikan informasi yang lebih detail.

Seluruh informasi dalam tabel ini benar, kecuali chasen.

Perplexity mencantumkan 59 sumber dari berbagai macam website.

Dari sekian informasi yang disajikan oleh Perplexity AI di atas, ada beberapa hal yang memang masih belum tepat. Misalnya saja, bagian harga chasen yang disebutkan oleh Perplexity adalah 15 ribu. Padahal jika Anda membuka marketplace, tidak ada harga chasen semurah itu.

Nah, karena informasi tersebut tidak benar, Anda dapat melakukan validasi ulang dengan mengirimkan screenshot untuk menyanggah argumen AI seperti ini.

SS gambar harga chasen di marketplace dan kembali tanyakan pada AI seperti ini.

Setelah divalidasi ulang, ternyata Perplexity mampu menjelaskan bahwa harga tersebut tidaklah tepat lewat paragraf ini:

“Jadi, berdasarkan bukti visual yang kamu kirim, harga termurah yang tampak adalah Rp67.900, bukan Rp15.000. Klaim Rp15.000 kemungkinan berasal dari listing lain, promo berbeda, atau produk non-premium/non-brand yang tidak muncul di gambar ini.”

Usai proses validasi ulang ini selesai, Anda bisa meminta Perplexity AI untuk memberikan sumber referensi tentang pure matcha atau segala hal yang berkaitan dengan jenis matcha: culinary grade dan ceremonial matcha. 

Cukup tulis prompt sebagai berikut:

“Sekarang berikan sumber referensi berupa penelitian dalam bentuk PDF terkait prompt yang aku tulis di atas tentang pure matcha dan culinary grade serta ceremonial matcha.”

Ternyata perplexity AI mampu memberikan beragam referensi sesuai yang Anda butuhkan.

Referensi yang dicantumkan oleh Perplexity AI ini dapat Anda buka bahkan download, sehingga sumbernya bisa dipertanggungjawabkan.

Jika Anda merasa perlu mengetahui poin-poin penting atau kesimpulan dari PDF yang disajikan oleh Perplexity AI, Anda hanya perlu mengetikkan prompt:

“Sekarang, bisakah kamu review apa yang ada dalam PDF ini  dan berikan poin-poin penting yang dibahas di dalamnya.”

Hasilnya, AI mampu merangkum dan menjelaskan pokok pembahasan di dalam PDF tersebut.

Perplexity juga mampu merangkum PDF yang Anda pilih untuk diringkas.

Setelah hasil riset yang Anda butuhkan selesai, langkah selanjutnya adalah Anda bisa meminta Perplexity untuk merangkumnya agar bisa menjadi informasi pendukung atau bahan riset selanjutnya. Tidak terlalu sulit, bukan?

Updated on August 4, 2026 by Anisa K.

Mari Bekerja Sama!

Wujudkan situs web impian Anda bersama kami.

Contact Us